TUGAS
KOMUNIKASI DALAM KEPERAWATAN
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN TIDAK SADAR
![]() |
Disusun Oleh
Rohmah Itsnawati
P17420213030
I A
DEPARTEMEN
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK
KESEHATAN SEMARANG
PROGRAM STUDI D
III KEPERAWATAN PURWOKERTO
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis
panjatkan kehadirat Allah SWT, bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mandiri
mata kuliah Komunikasi Dalam Keperawatan dengan judul “Komunikasi Terapeutik
pada Pasien Tidak Sadar”. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit
hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam
penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang
tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dosen pembimbing Meisje M Kuhu, MPH yang telah
memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
2. Orang tua yang telah memberi dukungan dalam bentuk moril maupun materil.
3. Teman-teman yang telah membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini
selesai.
Semoga materi ini
dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan,
khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Purwokerto,
Februari 2014
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL ................................................................................... i
KATA
PENGANTAR................................................................................... ii
DAFTAR
ISI ................................................................................................ iii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah................................................................ .... 2
1.3.
Tujuan....................................................................................... 2
BAB II : LANDASAN TEORI
2.1.
Definisi
Komunikasi................................................................. 3
2.2.
Komunikasi
Terapeutik............................................................. 4
2.3. Komunikasi Dengan
Pasien Tidak Sadar.................................................................... 7
2.4.
Fungsi
Komunikasi
Dengan Pasien Tidak Sadar...................................................... 8
Dengan Pasien Tidak Sadar...................................................... 8
2.5.
Cara
Berkomunikasi
Dengan Pasien Tak Sadar......................................................... 11
Dengan Pasien Tak Sadar......................................................... 11
2.6.
Prinsip-Prinsip
Berkomunikasi
Dengan Pasien Yang Tidak Sadar............................................ 13
Dengan Pasien Yang Tidak Sadar............................................ 13
2.7. Tahap Komunikasi
Dengan pasien tidak sadar........................................................ 14
Dengan pasien tidak sadar........................................................ 14
BAB III : PEMBAHASAN.......................................................................... 17
BAB
IV : PENUTUP
4.1. Kesimpulan ............................................................................... 19
4.2. Saran.......................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................
21
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak
bisa lepas dari kegiatan komunikasi.Sehingga sekarang ilmu komunikasi
berkembang pesat. Salah satu kajian ilmu komunikasi ialah komunikasi kesehatan
yang merupakan hubungan timbal balik antara tingkah laku manusia masa lalu dan
masa sekarang dengan derajat kesehatan dan penyakit, tanpa mengutamakan
perhatian pada penggunaan praktis dari pengetahuan tersebut atau partisipasi
profesional dalam program-program yang bertujuan memperbaiki derajat kesehatan
melaui pemahaman yang lebih besar tentang hubungan timbal balik melalui
perubahan tingkah laku sehat ke arah yang diyakini akan meningkatkan kesehatan
yang lebih baik. Kenyataaanya memang komunikasi secara mutlak merupakan bagian
integral dari kehidupan kita, tidak terkecuali perawat, yang tugas
sehari-harinya selalu berhubungan dengan orang lain baik itu pasien, keluarga
pasien, maupun tim kesehatan lain.
Komunikasi
perawat dengan pasien khususnya sangatlah penting. Perawat harus bisa menerapkan
komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang
direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk
kesembuhan pasien (Indrawati, 2003 .48). Komunikasi terapeutik diterapkan tidak
hanya pada pasien sadar saja, namun pada pasien tidak sadar juga harus
diterapkan komunikasi terapeutik tersebut. Pasien tak sadar atau yang sering
disebut “koma” merupakan pasien yang fungsi sensorik dan motorik pasien mengalami penurunan
sehingga seringkali stimulus dari luar tidak dapat diterima klien dan klien
tidak dapat merespons kembali stimulus tersebut. Namun meskipun pasien tersebut
tak sadar, organ pendengaran pasien merupakan organ terakhir yang mengalami
penurunan penerimaan rangsangan. Maka dari itu penulis mengambil judul Komunikasi
Terapeutik pada Pasien Tidak Sadar
agar dapat mengetahui teknik dan prinsip berkomunikasi dengan pasien
koma.
1.2.
Rumusan Masalah
Dalam makalah ini mengangkat masalah mengenai “Bagaimana komunikasi
terapeutik dengan pasien yang tidak sadar?”
1.3.
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah yang berhubungan
dengan metode berkomunikasi dengan pasien tidak sadar yaitu sebagai berikut:
1.3.1.
Menyadari betapa
pentingnya komunikasi dengan pasien yang tidak sadar.
1.3.2.
Mengetahui
teknik-teknik dalam berkomunikasi dengan pasien yang tidak sadar.
1.3.3.
Mengetahui
prinsip-prinsip dalam berkomunikasi dengan pasien yang tidak sadar.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1.
Definisi Komunikasi
Kata atau
istilah “komunikasi” (Bahasa Inggris “comunication”) berasal dari Bahasa Latin
“communicatus” atau “communicatio atau communicare yang berarti ”berbagi” atau
“menjedi milik bersama”. Jadi kominukasi dapat diartikan suatu proses
pertukaran informasi di antara individu melalui sistem lambang-lambang,
tanda-tanda atau tingkah laku. (Riswandi, 2009).
Proses
komunikasi merupakan aktivitas yang mendasar bagi manusia sebagai bentuk
sosial. Setiap proses komunikasi diawali dengan adanya stimulus yang masuk pada
diri individu yang ditangkap melalui panca indera. Stimulus diolah di otak
dengan pengetahuan, pengalaman, selera, dan iman yang dimiliki individu.
(Wiryanto, 2004)
Sosiologi
menjelaskan komunikasi sebagai sebuah proses memaknai yang dilakukan oleh seseorang
terhadap informasi, sikap, dan perilaku orang lain yang berbentuk pengetahuan,
pembicaraan, gerak-gerik, atau sikap, perilaku dan perasaan-perasaan, sehingga
seseorang membuat reaksi-reaksi terhadap informasi, sikap dan perilaku tersebut
berdasarkan pada pengalaman yang pernah dia alami. (Mungin, B, 2008)
Menurut
Pendi (2009), Komunikasi merupakan suatu proses karena melalui komunikasi
seseorang menyampaikan dan mendapatkan respon. Komunikasi dalam hal ini
mempunyai dua tujuan, yaitu: mempengaruhi orang lain dan untuk mendapatkan
informasi. Akan tetapi, komunikasi dapat digambarkan sebagai komunikasi yang
memiliki kegunaan atau berguna (berbagi informasi, pemikiran, perasaan) dan
komunikasi yang tidak memiliki kegunaan atau tidak berguna (menghambat/blok
penyampaian informasi atau perasaan). Keterampilan berkomunikasi merupakan
keterampilan yang dimiliki oleh seseorang untuk membangun suatu hubungan, baik
itu hubungan yang kompleks maupun hubungan yang sederhana melalui sapaan atau
hanya sekedar senyuman. Pesan verbal dan non verbal yang dimiliki oleh
seseorang menggambarkan secara utuh dirinya, perasaannya dan apa yang ia sukai
dan tidak sukai. Melalui komunikasi seorang individu dapat bertahan hidup,
membangun hubungan dan merasakan kebahagiaan.
2.2.
Komunikasi Terapeutik
Komunikasi
dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, dalam hal ini
komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi
keperawatan harus mampu memberikan khasiat therapi bagi proses penyembuhan pasien.
Oleh karenanya seorang perawat harus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
aplikatif komunikasi terapeutik agar kebutuhan dan kepuasan pasien dapat
dipenuhi. (Pendi, 2009)
Effendy
O.U (2002) dalam Suryani (2005) menyatakan lima komponen dalam komunikasi
yaitu; komunikator, komunikan, pesan, media dan efek. Komunikator (pengirim
pesan) menyampaikan pesan baik secara langsung atau melalui media kepada
komunikan (penerima pesan) sehingga timbul efek atau akibat terhadap pesan yang
telah diterima. Selain itu, komunikan juga dapat memberikan umpan balik kepada
komunikator sehingga terciptalah suatu komunikasi yang lebih lanjut.
Pendi(2009)
juga mengatakan, keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus
dimiliki oleh perawat, karena komunikasi merupakan proses yang dinamis yang
digunakan untuk mengumpulkan data pengkajian, memberikan pendidikan atau
informasi kesehatan mempengaruhi klien untuk mengaplikasikannya dalam hidup,
menunjukan caring, memberikan rasa nyaman, menumbuhkan rasa percaya diri dan
menghargai nilai-nilai klien. Sehingga dapat juga disimpulkan bahwa dalam
keperawatan, komunikasi merupakan bagian integral dari asuhan keperawatan.
Seorang perawat yang berkomunikasi secara efektif akan lebih mampu dalam
mengumpulkan data, melakukan tindakan keperawatan (intervensi), mengevaluasi
pelaksanaan dari intervensi yang telah dilakukan, melakukan perubahan untuk
meningkatkan kesehatan dan mencegah terjadinya masalah- masalah legal yang
berkaitan dengan proses keperawatan. Menurut Potter dan Perry (2005), ada tiga
jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan
secara terapeutik.
2.2.1.
Komunikasi Verbal
Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan
keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama
pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan
tepat waktu. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk
mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau
menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti
yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal
dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara
langsung.
2.2.2.
Komunikasi Tertulis
Komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi
yang sering digunakan dalam bisnis, seperti komunikasi melalui surat menyurat,
pembuatan memo, laporan, iklan di surat kabar dan lain- lain.
2.2.3.
Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa
menggunakan kata-kata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan
pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal
yang disampaikan klien mulai dan saat pengkajian sampai evaluasi asuhan
keperawatan, karena isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal.
Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan
keperawatan.
2.3.
Komunikasi Dengan Pasien Tidak Sadar
Komunikasi
dengan pasien tidak sadar merupakan suatu komunikasi dengan menggunakan teknik
komunikasi khusus/teurapetik dikarenakan fungsi sensorik dan motorik pasien
mengalami penurunan sehingga seringkali stimulus dari luar tidak dapat diterima
klien dan klien tidak dapat merespons kembali stimulus tersebut.
Pasien
yang tidak sadar atau yang sering kita sebut dengan koma, dengan gangguan
kesadaran merupakan suatu proses kerusakan fungsi otak yang berat dan dapat
membahayakan kehidupan. Pada proses ini susunan saraf pusat terganggu fungsi utamanya
mempertahankan kesadaran. Gangguan kesadaran ini dapat disebabkan oleh beragam
penyebab, yaitu baik primer intrakranial ataupun ekstrakranial, yang
mengakibatkan kerusakan struktural atau metabolik di tingkat korteks serebri,
batang otak keduanya.
Ada
karakteristik komunikasi yang berbeda pada klien tidak sadar ini, kita tidak
menemukan feed back (umpan balik), salah satu elemen komunikasi. Ini
dikarenakan klien tidak dapat merespon kembali apa yang telah kita
komunikasikan sebab pasien sendiri tidak sadar.
2.4.
Fungsi Komunikasi Dengan Pasien
Tidak Sadar
Menurut
Pastakyu (2010), Komunikasi dengan klien dalam proses keperawatan memiliki
beberapa fungsi, yaitu:
2.4.1.
Mengendalikan Perilaku
Pada klien yang tidak sadar,
karakteristik pasien ini adalah tidak memiliki respon dan klien tidak ada
prilaku, jadi komunikasi dengan pasien ini tidak berfungsi sebagai pengendali
prilaku. Secara tepatnya pasien hanya memiliki satu prilaku yaitu pasien hanya
berbaring, imobilitas dan tidak melakukan suatu gerakan yang berarti. Walaupun
dengan berbaring ini pasien tetap memiliki prilaku negatif yaitu tidak bisa
mandiri.
2.4.2.
Perkembangan Motivasi
Pasien tidak sadar terganggu pada
fungsi utama mempertahankan kesadaran, tetapi klien masih dapat merasakan
rangsangan pada pendengarannya. Perawat dapat menggunakan kesempatan ini untuk
berkomunikasi yang berfungsi untuk pengembangan motivasi pada klien. Motivasi
adalah pendorong pada setiap klien, kekuatan dari diri klien untuk menjadi
lebih maju dari keadaan yang sedang ia alami. Fungsi ini akan terlihat pada
akhir, karena kemajuan pasien tidak lepas dari motivasi kita sebagai perawat,
perawat yang selalu ada di dekatnya selama 24 jam. Mengkomunikasikan motivasi
tidak lain halnya dengan pasien yang sadar, karena klien masih dapat mendengar
apa yang dikatakan oleh perawat.
2.4.3.
Pengungkapan Emosional
Pada pasien tidak sadar,
pengungkapan emosional klien tidak ada, sebaliknya perawat dapat melakukannya
terhadap klien. Perawat dapat berinteraksi dengan klien. Perawat dapat
mengungkapan kegembiraan, kepuasan terhadap peningkatan yang terjadi dan semua
hal positif yang dapat perawat katakan pada klien. Pada setiap fase kita
dituntut untuk tidak bersikap negatif terhadap klien, karena itu akan
berpengaruh secara tidak langsung/langsung terhadap klien. Sebaliknya perawat
tidak akan mendapatkan pengungkapan positif maupun negatif dari klien. Perawat
juga tidak boleh mengungkapkan kekecewaan atau kesan negatif terhadap klien.
Pasien ini berkarakteristik tidak sadar, perawat tidak dapat menyimpulkan situasi
yang sedang terjadi, apa yang dirasakan pada klien pada saat itu. Kita dapat
menyimpulkan apa yang dirasakan klien terhadap apa yang selama ini kita
komunikasikan pada klien bila klien telah sadar kembali dan mengingat memori
tentang apa yang telah kita lakukan terhadapnya.
2.4.4.
Informasi
Fungsi ini sangat lekat dengan
asuhan keperawatan pada proses keperawatan yang akan kita lakukan. Setiap
prosedur tindakan keperawatan harus dikomunikasikan untuk menginformasikan pada
klien karena itu merupakan hak klien. Klien memiliki hak penuh untuk menerima
dan menolak terhadap tindakan yang akan kita berikan. Pada pasien tidak sadar
ini, kita dapat meminta persetujuan terhadap keluarga, dan selanjutnya pada
klien sendiri. Pasien berhak mengetahui apa saja yang akan perawat lakukan pada
klien. Perawat dapat memberitahu maksud tujuan dari tindakan tersebut, dan apa
yang akan terjadi jika kita tidak melakukan tindakan tersebut kepadanya.
Hampir
dari semua interaksi komunikasi dalam proses keperawatan menjalankan satu atau
lebih dari ke empat fungsi di atas. Dengan kata lain, tujuan perawat
berkomunikasi dengan klien yaitu untuk menjalankan fungsi tersebut. Dengan
pasien tidak sadar sekalipun, komunikasi penting adanya. Walau, fungsi yang
dijalankan hanya salah satu dari fungsi di atas. Dibawah ini akan diuraikan
fungsi-fungsi berkomunikasi dengan klien, terhadap klien tidak sadar. Untuk
dipertegas, walau seorang pasien tidak sadar sekali pun, ia merupakan seorang
pasien yang memiliki hak-hak sebagai pasien yang harus tetap kita penuhi.
Perawat
itu adalah manusia pilihan Tuhan, yang telah terpilih untuk membantu sesama,
memiliki rasa bahwa kita sesama saudara yang harus saling membantu. Perawat
akan membantu siapapun walaupun ia seorang yang tidak sadar sekalipun. Dengan
tetap memperhatikan hak-haknya sebagai klien.
Komunikasi
yang dilakukan perawat bertujuan untuk membentuk hubungan saling percaya,
empati, perhatian, autonomi dan mutualitas. Pada komunikasi dengan pasien tidak
sadar kita tetap melakukan komunikasi untuk meningkatkan dimensi ini sebagai
hubungan membantu dalam komunikasi terapeutik.
2.5.
Cara Berkomunikasi Dengan Pasien Tak
Sadar
Menurut Pastakyu (2010), Cara
berkomunikasi dengan klien dalam proses keperawatan adalah berkomunikasi
terapeutik. Pada klien tidak sadar perawat juga menggunakan komunikasi
terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara
sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan klien. Dalam
berkomunikasi kita dapat menggunakan teknik-teknik terapeutik, walaupun pada
pasien tidak sadar ini kita tidak menggunakan keseluruhan teknik. Teknik
terapeutik, perawat tetap dapat terapkan. Adapun teknik yang dapat terapkan,
meliputi:
2.5.1. Menjelaskan
Dalam berkomunikasi perawat dapat menjelaskan apa yang akan
perawat lakukan terhadap klien. Penjelasan itu dapat berupa intervensi yang
akan dilakukan kepada klien. Dengan menjelaskan pesan secara spesifik,
kemungkinan untuk dipahami menjadi lebih besar oleh klien.
2.5.2. Memfokuskan
Memfokuskan berarti memusatkan informasi pada elemen atau
konsep kunci dari pesan yang dikirimkan. Perawat memfokuskan informasi yang
akan diberikan pada klien untuk menghilangkan ketidakjelasan dalam komunikasi.
2.5.3. Memberikan Informasi
Fungsi berkomunikasi dengan klien salah satunya adalah
memberikan informasi. Dalam interaksi berkomunikasi dengan klien, perawat dapat
memberi informasi kepada klien. Informasi itu dapat berupa intervensi yang akan
dilakukan maupun kemajuan dari status kesehatannya, karena dengan keterbukaan
yang dilakukan oleh perawat dapat menumbuhkan kepercayaan klien dan pendorongnya
untuk menjadi lebih baik.
2.5.4. Mempertahankan ketenangan
Mempertahankan ketengan pada pasien tidak sadar, perawat
dapat menujukkan dengan kesabaran dalam merawat klien. Ketenagan yang perawat
berikan dapat membantu atau mendorong klien menjadi lebih baik. Ketenagan
perawat dapat ditunjukan kepada klien yang tidak sadar dengan komunikasi non
verbal. Komunikasi non verbal dapat berupa sentuhan yang hangat. Sentuhan
adalah transmisi pesan tanpa kata-kata, merupakan salah satu cara yang terkuat
bagi seseorang untuk mengirimkan pasan kepada orang lain. Sentuhan adalah
bagian yang penting dari hubungan antara perawat dan klien.
Pada dasarnya komunikasi yang akan
dilakukan pada pasien tidak sadar adalah komunikasi satu arah. Komunikasi yang
hanya dilakukan oleh salah seorang sebagai pengirim dan diterima oleh penerima
dengan adanya saluran untuk komunikasi serta tanpa feed back pada penerima yang
dikarenakan karakteristik dari penerima sendiri, yaitu pada point ini pasien
tidak sadar. Untuk komunikasi yang efektif dengan kasus seperti ini,
keefektifan komunikasi lebih diutamakan kepada perawat sendiri, karena perawat
lah yang melakukan komunikasi satu arah tersebut.
2.6.
Prinsip-Prinsip Berkomunikasi Dengan
Pasien Yang Tidak Sadar
Menurut Pastakyu (2010), Pada saat
berkomunikasi dengan klien yang tidak sadar, hal-hal berikut perlu
diperhatikan, yaitu:
2.6.1.
Berhati-hati
melakukan pembicaraan verbal di dekat klien, karena ada keyakinan bahwa organ
pendengaran merupakan organ terkhir yang mengalami penurunan penerimaan,
rangsangan pada klien yang tidak sadar. Klien yang tidak sadar seringkali dapat
mendengar suara dari lingkungan walaupun klien tidak mampu meresponnya sama
sekali.
2.6.2.
Ambil
asumsi bahwa klien dapat mendengar pembicaraan perawat. Usahakan mengucapkan
kata dan menggunakan nada normal dan memperhatikan materi ucapan yang perawat
sampaikan dekat klien.
2.6.3.
Ucapkan
kata-kata sebelum menyentuh klien. Sentuhan diyakini dapat menjadi salah satu
bentuk komunikasi yang sangat efektif pada klien dengan penurunan kesadaran.
2.6.4.
Upayakan
mempertahankan lingkungan setenang mungkin untuk membantu klien fokus terhadap
komunikasi yang perawat lakukan.
2.7.
Tahap komunikasi dengan pasien tidak
sadar
Komunikasi terapeutik terdiri atas 4
fase, yaitu fase pra interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi.
Setiap fase atau tahapan komunikasi terapeutik mencerminkan uraian tugas dari
petugas, yaitu
2.7.1.
Fase Prainteraksi
Pada fase prainteraksi ini, petugas
harus mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri. Petugas juga
perlu menganalisa kekuatan kelemahan profesional diri. Selanjutnya mencari data
tentang klien jika mungkin, dan merencanakan pertemuan pertama dengan pasien.
2.7.2.
Fase Orientasi
Fase ini meliputi pengenalan dengan
pasien, persetujuan komunikasi atau kontrak komunikasi dengan pasien, serta
penentuan program orientasi. Program orientasi tersebut meliputi penentuan
batas hubungan, pengidentifikasian masalah, mengakaji tingkat kecemasan diri
sendiri dan pasien, serta mengkaji apa yang diharapkan dari komunikasi yang
akan dilakukan bersama antara petugas dan klien.Tugas petugas pada fase ini
adalah menentukan alasan klien minta pertolongan, kemudian membina rasa
percaya, penerimaan dan komunikasi terbuka. Merumuskan kontrak bersama klien,
mengeksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan klien sangat penting dilakukan
petugas pada tahap orientasi ini. Dengan demikian petugas dapat
mengidentifikasi masalah klien, dan selanjutnya merumuskan tujuan dengan klien.
2.7.3.
Fase kerja / lanjutan
Pada fase kerja ini petugas perlu
meningkatkan interaksi dan mengembangkan faktor fungsional dari komunikasi
terapeutik yang dilakukan. Meningkatkan interaksi sosial dengan cara
meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, atau
dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan
dalam mengembangkan hubungan kerja sama. Mengembangkan atau meningkatkan faktor
fungsional komunikasi terapeutik dengan melanjutkan pengkajian dan evaluasi
masalah yang ada, meningkatkan komunikasi pasien dan mengurangi ketergantungan
pasien pada petugas, dan mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan
mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.Tugas petugas pada fase kerja
ini adalah mengeksplorasi stressor yang terjadi pada klien dengan tepat.
Petugas juga perlu mendorong perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian
mekanisme koping yang konstruktif, dan mengarahkan atau mengatasi penolakan
perilaku adaptif.
2.7.4.
Fase
terminasi
Fase terminasi ini merupakan fase
persiapan mental untuk membuat perencanaan tentang kesimpulan pengobatan yang
telah didapatkan dan mempertahankan batas hubungan yang telah ditentukan. Petugas
harus mengantisipasi masalah yang akan timbul pada fase ini karena pasien
mungkin menjadi tergantung pada petugas. Pada fase ini memungkinkan ingatan
pasien pada pengalaman perpisahan sebelumnya, sehingga pasien merasa sunyi,
menolak dan depresi. Diskusikan perasaan-perasaan tentang terminasi.
Pada fase terminasi tugas petugas
adalah menciptakan realitas perpisahan. Petugas juga dapat membicarakan proses
terapi dan pencapaian tujuan. Saling mengeksplorasi perasaan bersama klien
tentang penolakan dan kehilangan, sedih, marah dan perilaku lain, yang mungkin
terjadi pada fase ini.
BAB
III
PEMBAHASAN
Pasien yang tidak sadar atau yang
sering kita sebut dengan koma, dengan gangguan kesadaran merupakan suatu proses
kerusakan fungsi otak yang berat dan dapat membahayakan kehidupan. Pada proses
ini susunan saraf pusat terganggu fungsi utamanya mempertahankan kesadaran.
Gangguan kesadaran ini dapat disebabkan oleh beragam penyebab, yaitu baik
primer intrakranial ataupun ekstrakranial, yang mengakibatkan kerusakan
struktural/metabolik di tingkat korteks serebri, batang otak keduanya.
Pada pasien tidak sadar ini, pada
dasarnya pasien tidak responsif, mereka masih dapat menerima rangsangan.
Pendengaran dianggap sebagai sensasi terakhir yang hilang dengan ketidaksadaran
dan yang menjadi pertama berfungsi. Faktor ini akan menjadi pertimbangan
mengapa perawat tetap harus berkomunikasi pada klien tidak sadar sekali pun.
Ada karakteristik komunikasi yang
berbeda pada klien tidak sadar ini, kita tidak menemukan feed back (umpan
balik), salah satu elemen komunikasi. Ini dikarenakan klien tidak dapat
merespon kembali apa yang telah kita komunikasikan sebab pasien sendiri tidak
sadar. Nyatanya dilapangan atau di banyak rumah sakit pasien yang tidak sadar
ini atau pasien koma di ruangan-ruangan tertentu seperti Intensif Care Unit
(ICU), Intensif Cardio Care Unit (ICCU) dan lain sebagainya, sering mengabaikan
komunikasi terapeutik dengan pasien ketika maw melakukan sesuatu tindakan atau
bahkan suatu intervensi.
Hal ini yang menjadi banyak
perdebatan sebagaian kalangan ada yang berpendapat dia adalah pasien tidak
sadar mengapa kita harus berbicara, sedangkan sebagian lagi berpendapat walau
dia tidak sadar dia juga masih memiliki rasa atau masih mengatahui apa yang
kita perbuat, maka kita harus berkomunikasi walau sebagian orang beranggapan
janggal. Maka dari itu kita sebagai perawat diajarkan komunikasi terapeutik
untuk menghargai perasaan pasien serta berperilaku baik terhadap pasien
sekalipun dia berada dalam keadaan yang tidak sadar atau sedang koma.
BAB
IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
1. Adapun yang dapat disimpulkan dari
pembahasan yang dipaparkan adalah:
Pasien dengan gangguan kesadaran merupakan suatu proses kerusakan fungsi otak yang berat dan dapat membahayakan kehidupan.
Pasien dengan gangguan kesadaran merupakan suatu proses kerusakan fungsi otak yang berat dan dapat membahayakan kehidupan.
2. Pada pasien yang tidak sadar
bersifat tidak responsif, tetapi masih dapat merasakan rangsangan. Pendengaran
sebagai sensasi terakhir yang hilang dengan ketidaksadaran dan yang menjadi
pertama berfungsi.
3. Karakteristik komunikasi dengan
pasien yang tidak sadar adalah tidak adanya umpan balik (feed back).
4. Fungsi dari komunikasi dengan pasien
yang tidak sadar adalah sebagai perkembangan motivasi, pengungkapan emosional
dan sebagai informasi.
5. Dimensi yang membantu dalam
berkomunikasi diantaranya rasa percaya, empati, perhatian, autonomi dan
mutualitas.
6. Teknik berkomunikasi dengan pasien
yang tidak sadar meliputi menjelaskan, memfokuskan, memberi informasi dan
mempertahankan ketenangan.
7. Komunikasi dengan pasien yang tidak
sadar merupakan komunikasi satu arah dan memiliki prinsip-prinsip yang harus
diterapkan.
4.2. Saran
Bidang komunikasi interpersonal
telah mendapat perhatian dari para pendidik perawat, namun usaha untuk lebih
meningkatkan pembelajaran mengenai komunikasi pada tingkat verbal-terbuka serta
pesan-pesan non verbal harus lebih ditingkatkan lagi. Dalam tindakan-tindakan
komunikasi interpersonal, terdapat kebutuhan untuk mempertimbangkan konteks
sosial yang lebih luas, karakteristik sosial dari pengirim dan penerima
komunikasi dan struktur kekuasaan diantara orang-orang yang terlibat.
DAFTAR
PUSTAKA
Riswandi (2009), Ilmu
Komunikasi, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Universitas Mercu Buana, Yogyakarta,
Bab I Hal. 1
Wiryanto (2004), Pengantar
Ilmu Komunikasi, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Bab II. Hal
28
Mungin, B (2008), Sosiologi
Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di
Masyarakat, PT. Kencana, Jakarta, Bab III Hal. 57
Suryani.(2005). Komunikasi
Terapeutik; Teori dan Praktik.
Jakarta: EGC
Potter, Patricia A. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi 4. Jakarta: EGC
Pastakyu (2010), Komunikasi
Dengan Pasien Tidak Sadar,
http://hasiholandevil.blogspot.com/2011/11/berkomunikasi-dengan-pasien-tidak-sadar.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar